Tanggapan Ust @salimafillah thd twit @ulil ttg Perkosaan

Kita dapati riwayat perkosaan & penanganannya di masa Khilafah ‘Umar; & memang ia perkara langka sebab Syari’at Hijab indah menjaga:) @ulil


Semoga Gus @ulil yang ‘alim atas perkara ini berkenan memeriksa; perkosaan di masa ‘Umar terjadi karena seorang pemuda menyamar jadi wanita.


Seorang wanita tua menitipkan anak berpakaian perempuan pada si calon korban; yang meski tak berjenggot ternyata lelaki baligh adanya. @ulil

Jadi kesimpulan kami yang bodoh & kurang teliti ini; 1) Perkosaan itu kasus langka; tapi ada pembahasan & penyelesainnya dalam atsar. @ulil


Simpulan 2) Ia langka terjadi pada masa Rasul & Khulafaur Rasyidin sebab keterjagaan Jilbab & Hijab yang tertata sekaligus membudaya. @ulil


Simpulan 3) Maka demikianlah sifat asal Syari’ah yang indah; menjaga sebelum terjadi, mencegah agar tak perlu ada, & menutup celahnya. @ulil

Simpulan 4; maka dengan asas itu jua had aneka pelanggaran ditetapkan berat dengan syarat rumit; sebab tujuan aslinya bukan menghukum. @ulil

Simpulan 5; Quran hadir mendidik jiwa dengan pemahaman sempurna akan kecenderungan & sifatnya; maka ‘delik akuan’ lebih sering muncul. @ulil


Simpulan 6; di masa ‘Umar, perkosaan itu bukan di jalanan, melainkan penyusup di rumah; menunjukkan penjagaan hijab sangkil & mangkus. @ulil


Simpulan 7; maka dalam iman kami yang sering compang-camping oleh maksiat diri; tetap ada keyakinan, aturanNya menjaga & memberkahi.. @ulil

Demikian; tertatih oleh sempit wawasan & dangkalnya pemahaman; kami berlancang hati menanggapi Gus @ulil; moga membuka pintu ilmu tuk kami..

Shadaqat @WartaNU; di bahasan Fiqh; pembedaan terjadi pada siapa “Mudda’ ‘Alaih”-nya; zina jatuh keduanya; perkosaan salah-satu saja. @ulil


1) Shahih Gus @ulil; kita mendapati hal ini dalam banyak aqwal para ‘Ulama. Ibn ‘Abdil Barr dalam Al Istidzkar misalnya menulis.. @wartanu


Perkosaan adalah pemaksaan berzina. Bisa dilihat pembahasannya di http://www.saaid.net/Doat/hani/6.htm . @ulil


2) “Para ulama sepakat bahwa orang yang melakukan tindak perkosaan berhak mendapatkan hukuman had jika terdapat bukti atau.. @ulil @wartanu


3) ..pelaku mengakuinya.” Tapi beliau menambah, “Jika TIDAK, tertuduh pelaku berhak mendapatkan HUKUMAN DALAM BENTUK LAIN.” @ulil @wartanu


4) Syaikh @almonajjid mensyarah hal ini; “Jika tak terdapat bukti yang menyebabkan dia berhak mendapat hukuman had; karena.. @ulil @wartanu


5) “..dia tak mengakui atau tak ada 4 saksi atau penunjuk yang dikuatkan ahli {misal tes DNA sperma pelaku di tubuh korban}.. @ulil @wartanu


6) ..maka diselenggarakan pengadilan Ta’zir tuk menjatuhkan hukuman yang menjerakan bagi tertuduh maupun calon pelaku lain.” @ulil @wartanu


7) Keterangan ini; dengan memasukkan unsur bukti penunjuk teknologi & ahli; sebagaimana dalam hal lain, Fiqh menerima sains. @ulil @wartanu


8) Berlapis pula jeratannya dengan; andai lolos dari pembuktian pun, si pelaku masuk pengadilan Ta’zir untuk HUKUMAN LAIN. @ulil @wartanu


9) Imam Al Baji dalam Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa menguatkan Madzhab Maliki, Syafi’i, & Hanbali tentang denda setara mahar. @ulil @wartanu


10) Dan tambahan catatan; perkosaan dengan ancaman senjata masuk ke jinayah berganda; had zina & hukuman perampokan berat. @ulil @wartanu


11) @almonajjid mengacu {QS5:33} menegaskan hukuman tambahan itu; salib, bunuh, potong tangan-kaki menyilang, & pembuangan. @ulil @wartanu


12) Demikian kami nan faqir ilmu ini memberanikan diri menanggapi; selalu berharap bertambah pemahaman dari penjelasan Gus @ulil & @wartanu.


***

Sumber: Linimasa Ustadz @salimafillah

Kultwit ini adalah tanggapan beliau terkait kultwit @ulil tentang kasus perkosaan dalam hukum Islam

Hakikat Maksiat by Ustadz @salimafillah

1) Kekufuran, kejahatan, & kemaksiatan di dunia terasa ramai, penuh kawan, bahkan beperlindungan. Tapi di akhirat ia kesendirian bersesalan.

2) Hakikat ini tersebut dalam firmanNya; “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at. Dan tidak pula teman yang akrab.” {QS 26: 100-101}

3) Segala kemesraan dunia kan terputus di akhirat, “Para kekasih pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain..” {QS 43: 67}

4) “..Kecuali orang-orang bertaqwa.” {QS 43: 67}, yang saling cinta karena Allah, dengan cara nan diridhai Allah, dalam mencari ridha Allah.

5) Terrasa jerit insan yang tak taqwa dalam cinta, “Aduhai binasa & celaka aku, andai dulu tak kuambil Fulan sebagai kekasihku.” {QS 25: 28}

6) Keimanan, kebajikan, & ketaatan walau terasa sunyi & sendiri adalah ikatan yang meriah & indah. Tersambung kita melintasi tempat & zaman.

7) Kemesraan yang kan abadi itu; “Wahai Rabb kami, ampunilah kami & SAUDARA-SAUDARA yang MENDAHULUI kami dengan keimanan..” {QS 59: 10}

8) Dan termohon pada Allah agar menjaga kebersihannya, “Dan jangan jadikan di hati kami ganjalan meradang kepada orang mukmin..” {QS 59: 10}

9) Sungguh kebersamaan dalam taqwa tidaklah mudah bagi hawa nafsu kita yang cenderung pada suka-suka, enak-enak, & menunda-nunda kebaikan.

10) Kemesraan ukhrawi di dunia jadi berat sebab penuh nasehat; para bertaqwa itu tak segan meluruskan yang bengkok, membetulkan yang keliru.

11) Maka “Dan sabarkanlah dirimu membersamai orang-orang yang menyeru pada Rabbnya pada pagi & petang semata mengharap ridhaNya” {QS 18: 28}

12) Ukhuwah bukan meniadakan masalah; ia mendampinginya agar indah. “Hanyasanya orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah..” {QS 49: 10}

13) Inilah cara menjaga diri dalam kebaikan, “Hai insan-insan beriman, bertaqwalah pada Allah & bersamailah orang-orang benar.” {QS 9: 119}

14) Demikian perbedaan kemesraan semu yang berujung sesal & seteru; dengan kebersamaan taqwa yang meski berkendala, sampailah jua ke surga.

15) Ialah mimbar cahaya tercemburui Nabi & syuhada’. Bahkan walau di dunia sempat dicekam dendam, iman kelak mempertemukan dalam kenikmatan.

16) Yakni “Dan Kami cabut segala dendam di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadapan di atas dipan-dipan.” {QS 15: 47}

17) Akhirnya; hakikat maksiat sunyi, sesal, & seteru walau mesra, semarak, & syahdu; taat itu nikmat & hangat nanti walau kini gerah & sepi.

Ustadz Salim A. Fillah

twitter.com/salimafillah

Kultwit tentang “Qoulan Baligha – perkataan yg berbekas di hati- aka #Jleb oleh Ust @salimafillah

1. Ini kisah tentang Qaulan Baligha (perkataan yang berbekas di hati; alias #Jleb); yang mana Allah firmankan: “Mereka itu..

2. ..adalah orang yang Allah mengetahui apa-apa nan ada dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah dari mereka.. #Jleb

3. ..berilah mereka pelajaran, & katakan pada mereka Qaulan Baligha {ucapan yang berbekas pada jiwa}. (QS 4: 63) #Jleb

4. Ketika perang Tabuk diserukan; Allah & RasulNya menjadikan keberangkatannya kewajiban yang mengikat semua sahabat. #Jleb

5. Maka berangkatlah para lelaki beriman (kecuali 3 yang tertinggal; Ka’b ibn Malik, Hilal ibn Umayyah, Murarah ibn Rabi’).. #Jleb

6. ..hingga Kota Madinah sunyi. Keluarga-keluarga tak dibersamai suami & para Ayah; kecuali tentu, keluarga Munafikin. #Jleb

7. Maka para isteri munafik turut beraksi; mencoba mengguncang iman para Mukminah lagi Shalihah yang ditinggalkan suami. #Jleb

8. Kita bayangkan mereka berkata; “Duh Bu.. Kasihan amat yak! Lagi paceklik begini, keamanan rawan, rumah banyak kerepotan.. #Jleb

9. ..cuaca tak bersahabat; mana anak banyak & pada rewel; eh ditinggal pergi suami.. Duh, Bu.. Kalau kami nggak mau Bu..” #Jleb

10. Apa jawab para wanita Mukminah & Shalihah pada ‘teror mental’ oleh para tetangga yang munafiqah ini? Qaulan Baligha! #Jleb

11. Kalimat mereka indah & abadi; “Innama dzahabal Akkal; wa baqiyar Razzaq”. Harfiahnya; “Yang pergi itu (para suami).. #Jleb

12. ..hanyalah tukang makan; adapun Yang Memberi Rizqi (Allah), tetap tinggal bersama kami.” Ini kalimat membekas jiwa. #Jleb

13. Ada unsur ledekan pada suami (disebut ‘tukang makan’); tapi ini hakikat; mereka bukan pemberi rizqi & penentu hidup-mati. #Jleb

14. Ianya dilanjutkan penegasan Tauhid & iman sejati; Allah Sang Pemberi Rizqi tetap tinggal di sini bersama kami. #Jleb

15. Sekaligus di dalamnyapun ada unsur cimeeh -kato rang Minang-; bahwa jikalau tukang makan (suami) yang mukmin pergi.. #Jleb

16. ..tukang makan (suami) para munafiqah tetap di rumah; menghabis-habiskan sediaan kala paceklik & rawan; padahal mereka.. #Jleb

17. ..bukan Dzat pemberi makan, bukan pula yang mampu menjamin keselamatan. Ini Qaulan Baligha yang memberi pelajaran. #Jleb

18. Para Shalihat; terkadang dakwah menjadikan suami harus pergi meninggalkan di kala kehadirannya pun amat diperlukan. #Jleb

19. Pada saat semacam itu; mungkin kan bermakna bagi kita tuk mengeja kembali kalimat mulia; “Innama dzahabal Akkal.. #Jleb

20. ..wa baqiyar Razzaq! Yang pergi itu cuma tukang makan; Sang Maha Pemberi Rizqi selalu di sini; ada bersama kami.” #Jleb

21. Tentu bukan untuk mengejek suami; bukan pula untuk merendahkan ta’zhim padanya; ia untuk meneguhkan iman & tawakkal. #Jleb

22. Selebihnya; jadikan suami rekan berbakti & mengabdi; gelora asmara & nyala cinta; rumahtangga surga sebelum surga. #Jleb

23. Demikian bincang tentang #Jleb ya Shalih(in+at); Qaulan Baligha yang menurut QS 4: 63 tertuju pada mereka nan berpenyakit hati.

24. Tiada lain maksudnya pun kebaikan; agar mereka mendapat pelajaran yang #Jleb; yang membekas pada jiwa. Adapun Al Quran..

25. ..memberi arahan lain seperti Qaulan Layyina (20: 44), Qaulan Sadida (4: 9), Qaulan Karima (17: 23), Qaulan Maysura (17: 28).. #Jleb

26. ..semoga lain waktu Allah karuniakan daya & ilmu untuk membahasnya. Sebagai awalan; sila dirujuk ayat & pemahamannya:) #Jleb

Kultwit “Keagungan #Ayyub a.s dalam Sabar” oleh Ust @salimafillah

1. Semoga Shalih(in+at) berkenan; insyaaLlah akan sedikit membincang keagungan #Ayyub ‘Alaihis Salam dalam sabarnya

2. Allah berfirman; “Dan ingatlah akan hamba Kami, #Ayyub; ketika dia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu syaithan..”

3. “..dengan kepayahan & siksaan.” {QS 38: 41} Mari kita kutip tafsir Syaikh Muhammad ‘Ali Ash Shabuni, Rawa-i’ul Bayan. #Ayyub

4. Perkataan #Ayyub, “Sesungguhnya aku diganggu syaithan” adalah ungkapan lembut & penuh adab pada Allah; yakni menyandarkan..

5. ..segala penderitaan yang dialaminya kepada syaithan; padahal hakikatnya tiada apa jua, baik manfaat atau madharat.. #Ayyub

6. ..kebaikan maupun keburukan; yang tak berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. Tetapi, dengan tetap menginsyafi bahwa.. #Ayyub

7. ..semua yang terjadi merupakan ketetapanNya; menyandarkan derita & lara pada Allah tak patut dihadirkan dalam ucap. #Ayyub

8. Inilah keagungan adab; ia ada di atas hakikat. Sebagaimana Ibrahim tahu bahwa jika dia sakit, Allah jua yang takdirkan. #Ayyub

9. Tapi dalam ucapan; dia nyatakan; “Allah yang memberiku makan & minum; & tatkala AKU SAKIT; Dia menyembuhkanku.” {QS 26: 79-80} #Ayyub

10. Sesungguhnya makan, minum, SAKIT, & kesembuhan Ibrahim, semua dari Allah, tiada sekutu bagiNya. Tapi adab menuntunnya.. #Ayyub

11. ..untuk menisbatkan sakit itu pada dirinya sendiri. Demikian kita diajarkan; keyakinan itu tetap; adab harus dijaga. #Ayyub

12. Kemudian ucapan #Ayyub; “binushbin wa ‘adzab [dengan kepayahan & siksaan]” bermakna beliau diuji dalam 2 ranah sekaligus.

13. Yang pertama lahiriah-nya; “nushb”, yakni kepayahan tersebab sakit yang merusak tubuh, memedihkan, & mentakberdayakan. #Ayyub

14. Yang kedua pada batin; “‘adzab”, yakni rasa kehilangan yang mengiris atas segala yang pernah dimiliki sepenuh cinta. #Ayyub

15. Kisah #Ayyub yang beroleh musibah berlipat; lahir & batin, Allah letakkan di QS Shaad tepat setelah cerita Dawud & Sulaiman.

16. Seakan Allah hendak sampaikan pada Muhammad SAW & ummatnya; “Tiada hamba yang dikurniai nikmat dunia melebihi Dawud & Sulaiman..” #Ayyub

17. ..maka teladanilah kesyukuran mereka hingga menjadi hamba terkasih. Dan tiada yang beroleh bala’ bencana melebihi #Ayyub..

18. ..maka teladanilah kesabarannya hingga menjadi hamba tersayang. Sebab sungguh kalian hidup di antara 2 keadaan itu.” #Ayyub

19. Sufyan Ats Tsaury pernah ditanya; Mana yang lebih utama; orang kaya yang bersyukur ataukah orang miskin yang sabar? #Ayyub

20. Jawab beliau; SAMA mulianya. Sebab Allah memuji Sulaiman; “Dia sebaik-baik hamba; sungguh dia sangat taat!” {QS 38: 30} #Ayyub

21. Lalu Allah memuji #Ayyub; “Dia sebaik-baik hamba; sungguh dia sangat taat!” {QS 38: 44}. Kalimat pujian tuk keduanya SAMA

22. #Ayyub dipuji Allah; “Inna wajadnaahu shaabiraa ” {QS 38: 44}. Bagaimana kesabarannya?

23. #Ayyub mencontohkan kesabaran dalam bentuk pengaduan sebagaimana telah tersebut di QS 21: 83; demikian juga QS 38: 41 ini.

24. Maka makna pertama dari sabar yang diteladankan #Ayyub adalah kembali pada Allah; mengadu dengan penuh adab & kehambaan.

25. Seperti juga kalimat indah Ya’qub; “Semata aku adukan kesusahan diri & kesedihan hatiku kepada Allah!” {QS 12: 86} #Ayyub

26. Juga kalimat mulia Muhammad SAW tatkala diusir dari Thaif, dikejar-kejar dengan olok & makian, dilempari batu & kotoran. #Ayyub

27. “Ya Allah, padaMu kuadukan lemahnya diriku & kurangnya siasatku..” Lagi-lagi adab; beliau tidak mengadukan orang lain. #Ayyub

28. Sebenarnya bisa saja beliau SAW berdoa; “Ya Allah, kuadukan padaMu kerasnya hati mereka & jahatnya perlakuan padaku..” #Ayyub

29. Tetapi Muhammad SAW adalah guru dalam adab mulia pada Allah & sesama manusia; tiada yang dia adukan selain dirinya. #Ayyub

Kultwit “The Muslim Jesus” oleh Ust @salimafillah

1. Seorang keji mendatangi ‘Isa, ‘alaihis salam. Dibawanya setimpuk kotoran menjijikkan; lalu dia ruahkan ke wajah & tubuh Al Masih.

2. Detik berikut; dari mulutnya keluar serapah laknat yang kotor & lucah, menghinakan Nabi ‘Isa dengan tuduhan jahat & palsu.

3. Maka tersenyumlah ‘Isa menyimak hingga khatam. Kemudian dihulurkannya sebotol minyak wangi kepada orang itu; dan diterima.

4. Di jenak berikutnya; ‘Isa bicara pada si keji dengan ucapan yang sangat indah & mulia; mendoakan dengan tulus & rendah hati.

5. Ketika lelaki itu berlalu pergi dengan tertawa-tawa; bertanyalah para Hawari, murid-murid ‘Isa; “Apa maksud semua ini Guru?”

6. “Dia melumurimu kotoran busuk menjijikkan; kau beri dia minyak wangi. Dia kasar mencaci-maki; tapi kau santun & lembut bicara?”

7. ‘Isa menjawab; “Lelaki itu memberiku kotoran busuk & ucapan keji. Sayang aku tak punya yang serupa dengan itu untuk membalasnya.”

8. “Ingatlah bahwa sesungguhnya”, lanjut ‘Isa sambil tersenyum, “Setiap orang hanya bisa memberikan apa yang dipunyainya.”

9. Demikian tersari dari sebuah atsar yang diurai Tarif Khalidi dalam “The Muslim Jesus”. Semoga menjadi ‘ibrah ya Shalih(in+at:)

Kultwit Keterangan Sebagian Mufassir atas QS 2: 120 oleh Ust @salimafillah

1. RasuluLlah SAW berhijrah ke Madinah & beliau dapati para Ahli Kitab Yahudi & Nasrani yang telah Allah sebutkan tinggal di sana.

2. Nabi tahu mereka membaca Taurat & Injil nan di dalamnya terdapat ciri beliau rinci; beliau amat berharap mereka menerima dakwah.

3. Kiblat shalat; perintah puasa; & bahkan penampilan beliau (sisiran rambut & pakaian) pada mulanya mirip dengan para Ahli Kitab.

4. Dengan ini beliau SAW berharap mereka kian bersimpati; mau mengenal & mendengar Al Quran; & akhirnya terbimbing kepada Islam.

5. Tetapi semakin lama; yang ada justru kedengkian & pwrmusuhan mereka. Mereka hanya mau ridha justru jika Rasul ikut agama mereka.

6. Maka Allah SWT menurunkan QS 2: 120 ini sebagai penguatan sekaligus peringatan kepada NabiNya agar tak ikuti hawa nafsu mereka.

7. Maka Allah tegaskan pembeda (nanti jua turun ayat perubahan Qiblat & puasa Ramadhan); & Nabi mengubah tatanan rambut & pakaian.

8. Demikian keterangan sebagian Mufassir atas QS 2: 120 yang ditanyakan Akhinda Shalih @rprimar. WaLlahu A’lam bish shawab tsummastaghfiruH.

Kultwit “Tentang Menasehati” oleh Ust @salimafillah

Terkadang; luka di hati orang yang menasehati; lebih dalam & perih dibanding yang dinasehati..

Penasehat tulus; mencari 77 alasan tuk berbaiksangka; jika semua tak masuk akal; simpulannya, “Saudaraku punya alasan yang tak kutahu.”

Tetapi cinta; yang kadang meluruhkan tegur & kata; tak boleh meruntuhkan kewajiban yang diamanahkan Tuhannya; nasehat.

Nasehat, kawan sejati bagi nurani; menjaga cinta dalam ridhaNya; ia bermula di isyarat mata, cahaya muka, atau bisik rahasia..

Tapi apa yang harus dilakukannya; jika tiada perubahan jua? Menangis. Menangis di hadapan Rabbnya mengadukan lemahnya diri & buntunya upaya.

Lalu sekali lagi disampaikannya nasehat; & lagi; hingga dia tak punya pilihan selain mengajak para lebih utama tuk curahkan cinta.

Jika cinta telah bicara hingga ke ujung rasa sakitnya; haruskah ada doa, “Aku sudah tak sanggup ya Allah; hanya Kau yang mampu menegurnya!”?

Kultwit #Nama di Belakang Nama Suami oleh Ust @salimafillah

1. Betulkah menggandeng #nama suami di belakang nama isteri diharamkan secara mutlak?

2. Padahal ianya adalah ‘URF dalam identifikasi di negeri ini; dan betapa banyak para Masyaikh kitapun memakainya. #Nama

3. Kita tak bisa melupakan #Nama-nama mulia seperti; Nyai Walidah Ahmad Dahlan, Nyai Solikhah Wahid Hasyim, Nyai Nafisah Sahal.

4. Tentu saja; sesuatu tak serta merta jadi halal hanya karena orang besar melakukannya. Jadi mari kita telisik soal #nama ini.

5. Dalam Islam; identifikasi terhadap seseorang luas & longgar. Bisa melalui hak Wala’, mis: ‘Ikrimah MAULA ibn ‘Abbas. #Nama

6. ..pekerjaan –mis: al-Ghazzali (tukang tenun) -dengan ciri–seperti al-A’raj (si pincang), kuniyah-mis: Abu Muhammad.. #Nama

7. ..dengan asal kota; Al Halabi, asal propinsi; Al Khurasani, bahkan juga dengan #Nama Ibu; Ibn Sumayyah (‘Ammar ibn Yasir).

8. Identifikasi #nama perempuan dengan suaminya diperkenalkan Al Quran melalui wanita tak baik (Imraatu Nuh, Imraatu Luth)..

9. ..juga wanita yang baik (Imraatu Fir’aun). Ini melengkapi Maryam binti ‘Imran yang diidentifikasi dengan #nama Ayahnya.

10. Adakah contoh di zaman Nabi SAW penggunaan #nama suami untuk identifikasi wanita? ADA. Al Bukhari & Muslim meriwayatkan..

11. ..berkata Abu Sa’id Al Khudzri; “Telah datang Zainab ISTERI Ibnu Mas’ud kepada RasuliLlah untuk bertemu beliau.. #Nama

12. ..maka beliau bertanya, “Zainab siapa?” Lalu dijawablah; “Zainab ISTERI Ibnu Mas’ud.” Ujar beliau, “Persilakan dia!” #Nama

13. Memang telah nyata dalil yang melarang memanggil anak dengan mengidentifikasinya yakni menasabkan kepada selain Ayah. #Nama

14. “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.” (QS. Al-Ahzab [33] : 5) #Nama

15. Pemahaman terhadap ayat ini; haram memanggil Zaid IBN Muhammad, sebab Ayahnya jelas Haritsah. Maka Zaid IBN Haritsah. #Nama

16. Para ‘ulama menjelaskan; terlarangnya penisbatan ini sebab berkaitan dengan konsekuensi hukum; waris, mahram, dll. #Nama

17. Di sisi ini; apakah penyebutan #Nama suami di belakang nama wanita seperti ‘URF kita berkonsekuensi hukum seperti dimaksud?

18. Lebih jauh; bukankah kita tidak memakai BINTI tuk menggandeng #Nama isteri dengan suaminya; sedang inilah yang bermasalah?

19. Nah; letak kemusykilan terjadi memang di banyak negeri yang berkebiasaan menggandeng #Nama anak & ayah tanpa BIN & BINTI.

20. Misalnya Mesir & beberapa negeri Arab lain; #Nama Halimah binti Rasyid dalam dokumen resmipun hanya ditulis Halimah Rasyid.

21. Jika ybs menikah dengan Ibrahim; maka memakai #nama Halimah Ibrahim jadi BERMASALAH karena dikira ada BINTI di antaranya.

22. Adapun menyebutnya Halimah Rasyid Ibrahim dimungkinkan karena bisa dimaknai Halimah BINTI Rasyid ZAUJATU Ibrahim. #Nama

23. Maka fatwa ‘Ulama di negeri-negeri itu cenderung mengharamkan #Nama 2 kata jika Nama isteri digandeng langsung Nama suami.

24. Apakah kebiasaaan demikian beserta konsekuensi hukumnya berlaku di negeri ini? Tidak. Kondisi & suasananya berbeda. #Nama

25. Kita di Indonesia menambahkan #Nama suami di belakang isteri bukan dalam rangka menafikan hubungan nasab dengan ayahnya.

26. Kita menggunakannya sekedar sebagai identifikasi; sebagaimana Nabi bertanya “Zainab yang mana?” dalam hadits di awal. #Nama

27. Ianya bahkan bermanfaat dalam pergaulan untuk menegaskan status seorang wanita agar lebih dikenal & tidak diganggu. #Nama

28. Ada nan bertanya, “Bukankah menggandeng #Nama dengan suami juga menjadi kebiasaan orang kafir?” Imam Ibn Nujaim Al Hanafi..

29. ..dalam Al Bahrur Ra’iq menjelaskan; “Penyerupaan terhadap orang kafir tidaklah diharamkan secara mutlak. Yang..” #Nama

30. ..diharamkan adalah menyerupai tindakan yang tercela & atau dengan maksud mengikuti mereka karena alasan yang batil.” #Nama

31. Akhi yang ‘Alim @mamoadi mengingatkan saya tentang kaidah “Al ‘Adah Muhakkamah; tradisi bisa menjadi hukum.” #Nama

32. Demikianlah; Islam tak hendak mencerabut para Muslim dari tradisinya selama tidak bertentangan dengan Nash Syar’i. #Nama

33. Sepenuh ta’zhim kepada @halalcorner yang telah membukakan pintu ilmu terkait gandengan #Nama ini. Ta’zhim kami pula pada pendapat itu.

34. Yang kami sampaikan bukan fatwa, hanya uraian kecil dalam menunjukkan bahwa kadang hukum berubah; mengingat tempat & zaman.

35. Sebab ‘illat (dasar tegaknya hukum, ~bukan hikmah: manfaat yang didapat darinya) kadang bersenyawa dengan zaman & tempat.

36. Sungguh sangat mulia & terhormat di mata kami, para saudari yang mengamalkan pendapat nan disampaikan Gurunda kami @halalcorner . #Nama

37. Mereka yang memilih kehati-hatian, insyaaLlah lebih aman & selamat; terimalah doa pemuliaan kami. Tapi tentu saja.. #Nama @halalcorner

38. ..soal menghalalkan & mengharamkan jauh lebih berat tanggungjawabnya daripada sekedar beramal jika telah memiliki hujjah. @halalcorner

39. Itu sebabnya, walau berpeluh sebab sedikitnya ilmu & sempitnya pemahaman; kami hadirkan ulasan sebagai pelengkap Gurunda @halalcorner .

40. Tertatih kami sampaikan ini; & telah banyak yang memberi koreksi berharga, termasuk Gurunda kami nan berilmu @ahmadabr .

41. Kami sampaikan jzkmLlh khyrn kepada semua; penuh syukur uraian yang kami pilihkan sedikit banyak telah mencakup keberatan.

42. Yang diperselisihkan bukan soal ‘Larangan Menasabkan pada Selain Ayah’. Itu jelas haram. Yang diperselisihkan adalah: … @halalcorner

43. ‘Apakah memakai #Nama suami di belakang Nama isteri termasuk kategori “Menasabkan”?’ Di sinilah Salim & Gurunda @halalcorner berbeda.

44. Maka tiada beda di antara kami dalam menghormati Nash, QS Al Ahzab [33] ayat 5 tersebut, alhamduliLlah. Hanya Kategorisasi. @halalcorner

45. Maafkan Shalih(in+at) atas panjang lebarnya pembahasan, sebab keterbatasan ilmu yang ada pada Salim memaksa demikian. #Nama @halalcorner

46. Kami akhiri dengan memohon ampun & rahmat Allah, mengemis bimbinganNya senantiasa, serta syukur kami pada @halalcorner & Shalih(in+at:)

47. Oh iya; ada hadits; من أننتسب إلى غير أبيه فعليه لعنة الله والملاءكة و الناس أجمعين seperti disebut Gurunda @ahmadabr & @halalcorner .

48. Atas hadits tsb perbedaan kami juga bukan pd Larangan Menasabkan pada Selain Ayah. Itu sepakat. Sekali lagi: KATEGORISASI;) @halalcorne

49. Sebenarnya ada nan juga bermasalah di negeri kita; isteri memanggil suami dengan “Abi!”, & sebaliknya “Ummi!” Berat ini! ;D @halalcorner

50. “Abi”, artinya “AyahKU!”, ini nanti akan masuk juga dalam pembahasan KATEGORI, “Termasuk menasabkan diri atau tidak?”

51. Secara bahasa jelas salah; isteri memanggil suami dengan “Abi! Ayahku!”, tapi bukankah ia ditujukan tuk membahasakan anak?

52. Melihat perbedaan Salim & @halalcorner dalam Kategorisasi soal #Nama tadi; Shalih(in+at) bisa menebak pendapat masing-masing kami kan?:)

53. Tetapi sungguh memang dianjurkan memakai panggilan yang aman. Orang Arab memakai kuniyah; “Ya Aba Fulan! Ya Umma Fulan!” @halalcorner

54. Orang Jawa pakai “Pak’e Fulan & Buk’e Fulan”; saya sering dipanggil “Pak’e Hilma” di keluarga mertua meski di rumah “Abah”.

55. Nah; selama ini kami pilih-pilih kondisi; Kalau sedang mengajari anak, ya ajarilah. Di luar itu, kami setia “Yayank Cinta!”


****

1. Betul @andi_nasrullah Shalih. Selain kasus Muhammad ibn Al Hanafiyah yang seharusnya disebut Muhammad ibn ‘Ali ibn Abi Thalib; beberapa..

2. ..sahabat bahkan dipanggil oleh RasuluLlah dengan menasabkannya pada ibu; contoh: “Ibnu Sumayyah” untuk ‘Ammar ibn Yasir.

3. Juga “Ibnu Ummi ‘Abd” tuk ‘Abdullah ibn Mas’ud. Ini tadi Salim singgung di uraian tuk menyatakan ‘Identifikasi itu Luas’.

4. Nah, apakah kita akan mengatakan Nabi melanggar ayat dengan penasaban pada Ibu yang beliau lakukan itu? Duh, tak patut.

5. Maka Salim cenderung pada pendapat tak mutlaknya keharaman penggandengan nama & nisbat tadi; seperti telah dijelaskan:)

6. Sebab jika haramnya mutlak berdasar lafazh tanpa melihat ‘illat; tak mungkin Nabi memanggil Ibn Sumayyah & Ibn Ummi ‘Abd.


***
‘afwan bila tersalah
Sumber: TL Ustadz Salim A. Fillah (www.twitter.com/salimafillah)

Kultwit #Kisah “Istana Kemaafan” oleh Ust @salimafillah

1. Suatu hari Rasulullah sedang bersama para sahabat; sejenak beliau tepekur dengan wajah khawatir; tapi tak lama kemudian tertawa. #kisah

2. Terheran, para sahabatpun bertanya, “Ya RasulaLlah, ada apakah kiranya sehingga engkau tampak khawatir tetapi kemudian tertawa?” #kisah

3. “Telah diperlihatkan padaku”, ujar beliau sembari tersenyum, “Dua orang dari kalangan ummatku yang bersengketa di hadapan Allah.” #kisah

4. Satu di antara mereka berkata: “Ya Rabbi, tegakkan keadilan di antara kami; dulu di dunia, saudaraku ini berlaku zhalim & keji!” #kisah

5. Si tergugat tertunduk malu, menangiskan sesal & takut. Maka Allah pun memanggil sang penuntut dengan lembut & berfirman padanya. #kisah

6. “Wahai hambaKu, angkatlah kepalamu!” Maka sang penggugat menengadah & melihat sebuah istana yang begitu indahnya. Dia terpesona. #kisah

7. Istana itu terbuat dari permata & marjan, dibingkai oleh emas, dihiasi mutiara. Maka dengan takjub ternganga, hamba itu bertanya. #kisah

8. “Duh Rabbi; bagi Nabi siapakah istana ini? Atau milik orang shiddiq yang mana ia? Atau kepunyaan pahlawan syahid zaman apa pula?” #kisah

9. Maka Allah berfirman; “Istana ini akan menjadi milik siapapun yang mampu membayar harganya.” Penggugat itu terbelalak & bertanya. #kisah

10. “Berapakah harganya Ya Rabbi? Dengan apakah orang yang menginginkan akan membayarnya? Siapakah yang beruntung bisa memilikinya?” #kisah

11. Allah berfirman; “Adalah dirimu mampu membayar harganya. Jika kau memaafkan saudaramu itu, niscaya istana ini kan jadi milikmu!” #kisah

12. Maka berteriaklah hamba itu tergembira, “Demi kemuliaan & keagunganMu Ya Rabbi; sungguh kini aku telah memaafkan saudaraku ini!” #kisah

13. Dikutip dari Syarh Shahih Muslim, karya Imam An Nawawi. Semoga #kisah “Istana Kemaafan” menginspirasi Shalih(in+at) sekalian. Salam:)

Sumber: TL Ust @salimafillah

Kultwit #Warisan oleh Ust @salimafillah

1. Kata-kata & rasa jiwa “Ana khairun minhu; Aku lebih baik daripada dia” adalah #warisan Iblis. Ianya tak benar & padanya kehinaan berakar.

2. Khilaf, lupa, & tergoda; ianya sifat Adam & Hawa. Tetapi #warisan mereka berupa doa yang begitu indahnya; “Rabbana zhalamna anfusana..”

3. “Mengapa kudapat ini sedang dia beroleh itu; mengapa dia diijabah sementara aku disungkah?” adalah #warisan putra Adam. Obatnya; qana’ah.

4. “Tak kudapati Tuan bagi kalian selainku; Nil mengalir di bawah kakiku, Mesir memujaku”, kata Fir’aun. #Warisan-nya ketertipuan menjumawa

5. “Semua kejayaan ini, kudapat karena ilmu yang kumiliki”, ujar Qarun. #Warisan-nya: yang meninggikan kemampuan, kan terkubur dalam-dalam

6. Tiada yang menandingi kuasa Sulaiman; mulialah #warisan-nya yang tersabda, “Ini kurnia Rabbku, tuk mengujiku; syukur atau kufurkah aku.”

7. Terbeban dosa lalu & bicara tergagu; teguh Musa hadapi musuh berkekuatan sedang dia nyaris sendirian. #Warisan-nya; “Rabbisrahli shadri.”

Sumber: TL ust @salimafillah