Hakikat Maksiat by Ustadz @salimafillah
1) Kekufuran, kejahatan, & kemaksiatan di dunia terasa ramai, penuh kawan, bahkan beperlindungan. Tapi di akhirat ia kesendirian bersesalan.
2) Hakikat ini tersebut dalam firmanNya; “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at. Dan tidak pula teman yang akrab.” {QS 26: 100-101}
3) Segala kemesraan dunia kan terputus di akhirat, “Para kekasih pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain..” {QS 43: 67}
4) “..Kecuali orang-orang bertaqwa.” {QS 43: 67}, yang saling cinta karena Allah, dengan cara nan diridhai Allah, dalam mencari ridha Allah.
5) Terrasa jerit insan yang tak taqwa dalam cinta, “Aduhai binasa & celaka aku, andai dulu tak kuambil Fulan sebagai kekasihku.” {QS 25: 28}
6) Keimanan, kebajikan, & ketaatan walau terasa sunyi & sendiri adalah ikatan yang meriah & indah. Tersambung kita melintasi tempat & zaman.
7) Kemesraan yang kan abadi itu; “Wahai Rabb kami, ampunilah kami & SAUDARA-SAUDARA yang MENDAHULUI kami dengan keimanan..” {QS 59: 10}
8) Dan termohon pada Allah agar menjaga kebersihannya, “Dan jangan jadikan di hati kami ganjalan meradang kepada orang mukmin..” {QS 59: 10}
9) Sungguh kebersamaan dalam taqwa tidaklah mudah bagi hawa nafsu kita yang cenderung pada suka-suka, enak-enak, & menunda-nunda kebaikan.
10) Kemesraan ukhrawi di dunia jadi berat sebab penuh nasehat; para bertaqwa itu tak segan meluruskan yang bengkok, membetulkan yang keliru.
11) Maka “Dan sabarkanlah dirimu membersamai orang-orang yang menyeru pada Rabbnya pada pagi & petang semata mengharap ridhaNya” {QS 18: 28}
12) Ukhuwah bukan meniadakan masalah; ia mendampinginya agar indah. “Hanyasanya orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah..” {QS 49: 10}
13) Inilah cara menjaga diri dalam kebaikan, “Hai insan-insan beriman, bertaqwalah pada Allah & bersamailah orang-orang benar.” {QS 9: 119}
14) Demikian perbedaan kemesraan semu yang berujung sesal & seteru; dengan kebersamaan taqwa yang meski berkendala, sampailah jua ke surga.
15) Ialah mimbar cahaya tercemburui Nabi & syuhada’. Bahkan walau di dunia sempat dicekam dendam, iman kelak mempertemukan dalam kenikmatan.
16) Yakni “Dan Kami cabut segala dendam di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadapan di atas dipan-dipan.” {QS 15: 47}
17) Akhirnya; hakikat maksiat sunyi, sesal, & seteru walau mesra, semarak, & syahdu; taat itu nikmat & hangat nanti walau kini gerah & sepi.
Ustadz Salim A. Fillah
twitter.com/salimafillah
Kultwit tentang “Qoulan Baligha – perkataan yg berbekas di hati- aka #Jleb oleh Ust @salimafillah
1. Ini kisah tentang Qaulan Baligha (perkataan yang berbekas di hati; alias #Jleb); yang mana Allah firmankan: “Mereka itu..
2. ..adalah orang yang Allah mengetahui apa-apa nan ada dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah dari mereka.. #Jleb
3. ..berilah mereka pelajaran, & katakan pada mereka Qaulan Baligha {ucapan yang berbekas pada jiwa}. (QS 4: 63) #Jleb
4. Ketika perang Tabuk diserukan; Allah & RasulNya menjadikan keberangkatannya kewajiban yang mengikat semua sahabat. #Jleb
5. Maka berangkatlah para lelaki beriman (kecuali 3 yang tertinggal; Ka’b ibn Malik, Hilal ibn Umayyah, Murarah ibn Rabi’).. #Jleb
6. ..hingga Kota Madinah sunyi. Keluarga-keluarga tak dibersamai suami & para Ayah; kecuali tentu, keluarga Munafikin. #Jleb
7. Maka para isteri munafik turut beraksi; mencoba mengguncang iman para Mukminah lagi Shalihah yang ditinggalkan suami. #Jleb
8. Kita bayangkan mereka berkata; “Duh Bu.. Kasihan amat yak! Lagi paceklik begini, keamanan rawan, rumah banyak kerepotan.. #Jleb
9. ..cuaca tak bersahabat; mana anak banyak & pada rewel; eh ditinggal pergi suami.. Duh, Bu.. Kalau kami nggak mau Bu..” #Jleb
10. Apa jawab para wanita Mukminah & Shalihah pada ‘teror mental’ oleh para tetangga yang munafiqah ini? Qaulan Baligha! #Jleb
11. Kalimat mereka indah & abadi; “Innama dzahabal Akkal; wa baqiyar Razzaq”. Harfiahnya; “Yang pergi itu (para suami).. #Jleb
12. ..hanyalah tukang makan; adapun Yang Memberi Rizqi (Allah), tetap tinggal bersama kami.” Ini kalimat membekas jiwa. #Jleb
13. Ada unsur ledekan pada suami (disebut ‘tukang makan’); tapi ini hakikat; mereka bukan pemberi rizqi & penentu hidup-mati. #Jleb
14. Ianya dilanjutkan penegasan Tauhid & iman sejati; Allah Sang Pemberi Rizqi tetap tinggal di sini bersama kami. #Jleb
15. Sekaligus di dalamnyapun ada unsur cimeeh -kato rang Minang-; bahwa jikalau tukang makan (suami) yang mukmin pergi.. #Jleb
16. ..tukang makan (suami) para munafiqah tetap di rumah; menghabis-habiskan sediaan kala paceklik & rawan; padahal mereka.. #Jleb
17. ..bukan Dzat pemberi makan, bukan pula yang mampu menjamin keselamatan. Ini Qaulan Baligha yang memberi pelajaran. #Jleb
18. Para Shalihat; terkadang dakwah menjadikan suami harus pergi meninggalkan di kala kehadirannya pun amat diperlukan. #Jleb
19. Pada saat semacam itu; mungkin kan bermakna bagi kita tuk mengeja kembali kalimat mulia; “Innama dzahabal Akkal.. #Jleb
20. ..wa baqiyar Razzaq! Yang pergi itu cuma tukang makan; Sang Maha Pemberi Rizqi selalu di sini; ada bersama kami.” #Jleb
21. Tentu bukan untuk mengejek suami; bukan pula untuk merendahkan ta’zhim padanya; ia untuk meneguhkan iman & tawakkal. #Jleb
22. Selebihnya; jadikan suami rekan berbakti & mengabdi; gelora asmara & nyala cinta; rumahtangga surga sebelum surga. #Jleb
23. Demikian bincang tentang #Jleb ya Shalih(in+at); Qaulan Baligha yang menurut QS 4: 63 tertuju pada mereka nan berpenyakit hati.
24. Tiada lain maksudnya pun kebaikan; agar mereka mendapat pelajaran yang #Jleb; yang membekas pada jiwa. Adapun Al Quran..
25. ..memberi arahan lain seperti Qaulan Layyina (20: 44), Qaulan Sadida (4: 9), Qaulan Karima (17: 23), Qaulan Maysura (17: 28).. #Jleb
26. ..semoga lain waktu Allah karuniakan daya & ilmu untuk membahasnya. Sebagai awalan; sila dirujuk ayat & pemahamannya:) #Jleb
Kultwit “Keagungan #Ayyub a.s dalam Sabar” oleh Ust @salimafillah
1. Semoga Shalih(in+at) berkenan; insyaaLlah akan sedikit membincang keagungan #Ayyub ‘Alaihis Salam dalam sabarnya
2. Allah berfirman; “Dan ingatlah akan hamba Kami, #Ayyub; ketika dia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu syaithan..”
3. “..dengan kepayahan & siksaan.” {QS 38: 41} Mari kita kutip tafsir Syaikh Muhammad ‘Ali Ash Shabuni, Rawa-i’ul Bayan. #Ayyub
4. Perkataan #Ayyub, “Sesungguhnya aku diganggu syaithan” adalah ungkapan lembut & penuh adab pada Allah; yakni menyandarkan..
5. ..segala penderitaan yang dialaminya kepada syaithan; padahal hakikatnya tiada apa jua, baik manfaat atau madharat.. #Ayyub
6. ..kebaikan maupun keburukan; yang tak berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. Tetapi, dengan tetap menginsyafi bahwa.. #Ayyub
7. ..semua yang terjadi merupakan ketetapanNya; menyandarkan derita & lara pada Allah tak patut dihadirkan dalam ucap. #Ayyub
8. Inilah keagungan adab; ia ada di atas hakikat. Sebagaimana Ibrahim tahu bahwa jika dia sakit, Allah jua yang takdirkan. #Ayyub
9. Tapi dalam ucapan; dia nyatakan; “Allah yang memberiku makan & minum; & tatkala AKU SAKIT; Dia menyembuhkanku.” {QS 26: 79-80} #Ayyub
10. Sesungguhnya makan, minum, SAKIT, & kesembuhan Ibrahim, semua dari Allah, tiada sekutu bagiNya. Tapi adab menuntunnya.. #Ayyub
11. ..untuk menisbatkan sakit itu pada dirinya sendiri. Demikian kita diajarkan; keyakinan itu tetap; adab harus dijaga. #Ayyub
12. Kemudian ucapan #Ayyub; “binushbin wa ‘adzab [dengan kepayahan & siksaan]” bermakna beliau diuji dalam 2 ranah sekaligus.
13. Yang pertama lahiriah-nya; “nushb”, yakni kepayahan tersebab sakit yang merusak tubuh, memedihkan, & mentakberdayakan. #Ayyub
14. Yang kedua pada batin; “‘adzab”, yakni rasa kehilangan yang mengiris atas segala yang pernah dimiliki sepenuh cinta. #Ayyub
15. Kisah #Ayyub yang beroleh musibah berlipat; lahir & batin, Allah letakkan di QS Shaad tepat setelah cerita Dawud & Sulaiman.
16. Seakan Allah hendak sampaikan pada Muhammad SAW & ummatnya; “Tiada hamba yang dikurniai nikmat dunia melebihi Dawud & Sulaiman..” #Ayyub
17. ..maka teladanilah kesyukuran mereka hingga menjadi hamba terkasih. Dan tiada yang beroleh bala’ bencana melebihi #Ayyub..
18. ..maka teladanilah kesabarannya hingga menjadi hamba tersayang. Sebab sungguh kalian hidup di antara 2 keadaan itu.” #Ayyub
19. Sufyan Ats Tsaury pernah ditanya; Mana yang lebih utama; orang kaya yang bersyukur ataukah orang miskin yang sabar? #Ayyub
20. Jawab beliau; SAMA mulianya. Sebab Allah memuji Sulaiman; “Dia sebaik-baik hamba; sungguh dia sangat taat!” {QS 38: 30} #Ayyub
21. Lalu Allah memuji #Ayyub; “Dia sebaik-baik hamba; sungguh dia sangat taat!” {QS 38: 44}. Kalimat pujian tuk keduanya SAMA
22. #Ayyub dipuji Allah; “Inna wajadnaahu shaabiraa
23. #Ayyub mencontohkan kesabaran dalam bentuk pengaduan sebagaimana telah tersebut di QS 21: 83; demikian juga QS 38: 41 ini.
24. Maka makna pertama dari sabar yang diteladankan #Ayyub adalah kembali pada Allah; mengadu dengan penuh adab & kehambaan.
25. Seperti juga kalimat indah Ya’qub; “Semata aku adukan kesusahan diri & kesedihan hatiku kepada Allah!” {QS 12: 86} #Ayyub
26. Juga kalimat mulia Muhammad SAW tatkala diusir dari Thaif, dikejar-kejar dengan olok & makian, dilempari batu & kotoran. #Ayyub
27. “Ya Allah, padaMu kuadukan lemahnya diriku & kurangnya siasatku..” Lagi-lagi adab; beliau tidak mengadukan orang lain. #Ayyub
28. Sebenarnya bisa saja beliau SAW berdoa; “Ya Allah, kuadukan padaMu kerasnya hati mereka & jahatnya perlakuan padaku..” #Ayyub
29. Tetapi Muhammad SAW adalah guru dalam adab mulia pada Allah & sesama manusia; tiada yang dia adukan selain dirinya. #Ayyub
Kultwit “The Muslim Jesus” oleh Ust @salimafillah
1. Seorang keji mendatangi ‘Isa, ‘alaihis salam. Dibawanya setimpuk kotoran menjijikkan; lalu dia ruahkan ke wajah & tubuh Al Masih.
2. Detik berikut; dari mulutnya keluar serapah laknat yang kotor & lucah, menghinakan Nabi ‘Isa dengan tuduhan jahat & palsu.
3. Maka tersenyumlah ‘Isa menyimak hingga khatam. Kemudian dihulurkannya sebotol minyak wangi kepada orang itu; dan diterima.
4. Di jenak berikutnya; ‘Isa bicara pada si keji dengan ucapan yang sangat indah & mulia; mendoakan dengan tulus & rendah hati.
5. Ketika lelaki itu berlalu pergi dengan tertawa-tawa; bertanyalah para Hawari, murid-murid ‘Isa; “Apa maksud semua ini Guru?”
6. “Dia melumurimu kotoran busuk menjijikkan; kau beri dia minyak wangi. Dia kasar mencaci-maki; tapi kau santun & lembut bicara?”
7. ‘Isa menjawab; “Lelaki itu memberiku kotoran busuk & ucapan keji. Sayang aku tak punya yang serupa dengan itu untuk membalasnya.”
8. “Ingatlah bahwa sesungguhnya”, lanjut ‘Isa sambil tersenyum, “Setiap orang hanya bisa memberikan apa yang dipunyainya.”
9. Demikian tersari dari sebuah atsar yang diurai Tarif Khalidi dalam “The Muslim Jesus”. Semoga menjadi ‘ibrah ya Shalih(in+at:)
Kultwit Keterangan Sebagian Mufassir atas QS 2: 120 oleh Ust @salimafillah
1. RasuluLlah SAW berhijrah ke Madinah & beliau dapati para Ahli Kitab Yahudi & Nasrani yang telah Allah sebutkan tinggal di sana.
2. Nabi tahu mereka membaca Taurat & Injil nan di dalamnya terdapat ciri beliau rinci; beliau amat berharap mereka menerima dakwah.
3. Kiblat shalat; perintah puasa; & bahkan penampilan beliau (sisiran rambut & pakaian) pada mulanya mirip dengan para Ahli Kitab.
4. Dengan ini beliau SAW berharap mereka kian bersimpati; mau mengenal & mendengar Al Quran; & akhirnya terbimbing kepada Islam.
5. Tetapi semakin lama; yang ada justru kedengkian & pwrmusuhan mereka. Mereka hanya mau ridha justru jika Rasul ikut agama mereka.
6. Maka Allah SWT menurunkan QS 2: 120 ini sebagai penguatan sekaligus peringatan kepada NabiNya agar tak ikuti hawa nafsu mereka.
7. Maka Allah tegaskan pembeda (nanti jua turun ayat perubahan Qiblat & puasa Ramadhan); & Nabi mengubah tatanan rambut & pakaian.
8. Demikian keterangan sebagian Mufassir atas QS 2: 120 yang ditanyakan Akhinda Shalih @rprimar. WaLlahu A’lam bish shawab tsummastaghfiruH.
Kultwit #Write oleh Ust @salimafillah
1. Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write
2. Tapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak. #Write
3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write
4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write
5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write
6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write
7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write
8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write
9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write
10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write
11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write
12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write
13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write
14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write
15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write
16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write
17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write
18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write
19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write
20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write
21. Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write
22. Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write
23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write
24. Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write
25. ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write
26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write
27. Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca
29. Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write
30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi. #Write
31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write
32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write
33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write
34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write
35. Pertama, marilah jawab ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa ia harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write
36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write
37. Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write
38. Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write
39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write
40. Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write
41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam kotoran & darah, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write
42. …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write
43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah, ada goda kotoran & darah, kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write
44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write
45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write
46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write
47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write
48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write
49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write
50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata.. #Write
51. …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write
52. …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write
54. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write
55. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write
56. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write
57. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write
58. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write
59. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write
60. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write
61. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write
62. Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write
63. Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write
64. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write
65. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write
66. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write
67. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & sisi insaniyah. #Write
68. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write
69. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing2 pembaca; beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru, mengilhami selalu. #Write
70. Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write
71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write
72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write
73. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.” #Write
74. Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write
75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write
76. Mungkin itu yang menjelaskan; mengapa beberapa textbook perkuliahan tak ramah dibaca:) Penulisnya Prof., pembacanya lulusan SMA. #Write
77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write
78. Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write
79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write
80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write
81. Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma guru berjuta ilmu. #Write
82. Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write
83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write
84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write
85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write
86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write
87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write
88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write
89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write
90. Penulis sejati hayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write
91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja. #Write
92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write
93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write
94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write
95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write
96. ..dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh cinta. #Write
97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)
98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write
99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write
100. Jika ada ‘amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya:) #Write
